MEDAN – Bertempat di Aula Biara Kapusin Emaus Helvetia berlangsung Perayaan Ekaristi Sykuran Pesta Pelindung Paroki Santo Padre Pio Helevetia Medan dan Tahun Lembaga Hidup Bakti pada Kamis 24 September 2015.Perayaan Ekaristi sendiri dipimpin oleh Uskupa Agung Medan Mgr. Anicetus B Sinaga, OFM.Cap. Perayaan kali ,mengambil tema “Betapa Indahnya mengikuti Kristus sebgai Religius” dengan sub tema “Bersama Santo Padre Pio kita semakin beriman, Bersaudara dan Berbelarasa.

Dalam kotbahnya, Uskup menyampaikan bahwa beliau merasakan empat keutamaan dasar dari Santo Padre Pio. Yang pertama adalah kerendahan hati dan kedinaan dari Santo Padre Pion. Diberi teladan bahwa ketika  Padre Pio masih anak SD dan meyatakan keinginan menjadi pastor maka orang tuanya mendatangkan Jesuit sebagai pastor paroki mereka pada waktu itu kerumah bertemu dengan anak mereka dan kemudia Padre Pio berkata “bukan itu”,  maka dipanggilnyalah kapusin dan ketika kapusin datang di rumah mereka, dia mencium baik tanda salib dan rosarionya dan dia berekata “seperti Ini aku menjadi seorang pastor”. Itulah permulaan dari panggilannya dan diungkapannya sebagai pertanda kecendrungannya, inilah teladan yang rendah hati yang tanpa curiga di hadapannya dan kita dapat percaya kepadanya karena ketulusan dan kebersihan hatinya. Maka yang pertama yang mengesankan di Santo Padre Pio adalah kedinaan, kerendahan dan keilklasan seseorang. Maka itu bisa menjadi salah satu  teladan hidup baik dari para umat Paroki Santo Padre Pio ini baik para biarawan biarawati yang ingin mengikuti hidupnya sepenuh hati.

Keutamaan yang kedua adalah bahwa Santo Padre Pio mau mengikuti Kristus yang menderita untuk menyilih dosa-dosa Maka Santo Pade Pio ini adalah teladan penyilihan dosa-dosa orang dengan berpuasa, dengan menahan diri, dengan berdoa siang malam. Santo Padre Pio adalah orang yang mengungkapakan kata kata ini “ sekiranya kau bisa menyilih dosa dosa orang, biaralah aku menderita ya Tuhan di hadapanMu asal mereka diselamatkan untuk kehidupan yang kekal. Maka ini bisa menjadi acuan dan teladan baik dari umat paroki ini maupun dari biarawan biarawati, berkurban sama Kristus menyilih dosa dunia.

Keutamaan yang ketiga adalah cintanya kepada Sakramen Mahakudus dan itu mempunyai dua segi yang dia hayati. Sakramen Mahakudus itu adalah penghadirin tak berdarah dari Kurban Yesus di kayu salib di Golgota. Penghadirin itu juga adalah untuk mengenang dan menghadirkan kebangkitan dan kemuliaan Tuhan. Inilah missteri terdalam dari Yesus KRistus. Kristus telah bangkit dari wafat tapi dia telah bangkit bagi keselamatan dunia. Dalam riwayat hidup yang dibaca oleh Bapa Uskup terkesan b. Santo Padre Pio ini juga pernah dilarang oleh Vatican keluar rumah. Ia hidup dari Perayaan Ekaristi. Empat jam satu perayaan ekaristi dilakoninya, empat jam bermesraan, berketerharuan, dengan Tuhan adalah makanan yang harus dia rengguk beberapa tahun lamanya. Dan ia pecinta Sakramen Mahakudus baik dalam adorasi maupun dalam berbagai imam maupun dalam menyambutnya dan ia menjadi tokoh pelindung  dari penghormatan dari Sakramen Mahakudus. Kalau ini pun bisa menjadi peneladanan baik dari umat dari Paroki Padre Pio ini baik dari maupun di tempat lain sebagai panggilan biarawan biarawati adalah sangat mulia.

Keutamaan yang keempat adalah  tanda salib yang akhirnya dimahkotan kepadanya oleh Tuhan menjadi stigmata. Luka luka kudus baik pada tangan, pada lambung dan pada kakinya dan itu tak bisa ia tutupi meskipun dia berusaha merahasiakannya dan itulah yang paling mengesankan , dengan I tu dia diidentikan dengan Santo Fransiskus dari Asisi yang juga mendapat stigmata luka luka Yesus itu.

Pada kesempatan ini juga Uskup melantik prodiakon baru untuk Paroki Santo Padre Pio Medan. Acara juga dimeriahkan dengan hiburan hiburan dari Asmika, Areka dan OMK juga para biarawan yang hadir pada kesempatan tersebut yang diselangselingi dengan penarikan lucky draw berhadiah. Pesta Santo Padre Pio sendiri dalam kalender gereja diperingati setiap tanggal 23 September.

 

Reported by: Bromeus Sembiring

 

Comments are closed.