Teddy Robinson Siahaan: “Cermati Program, Jangan Terperangkap Money Politic”

TEDDY Robinson Siahaan—calon Walikota Pematangsiantar 2015-2020—terlihat bersahaja dengan setelan kemeja putih dan celana jeans dengan ciri khas rambut putihnya— senyum sumringah menghiasi wajahnya. Tampil gesit dan lincah saat mengayunkan langkah kakinya ketika menghampiri warga Kota Pematangsiantar.

Dalam dialog-dialog di internal tim pemenangan, maupun bersama para relawan, serta kepada setiap warga yang ditemuinya, ia senantiasa mengingatkan, bahwa sudah saatnya seluruh warga Kota Pematangsiantar “lebih jernih” melihat, mencermati, mengerti dan memahami keberadaan para calon walikota/wakil walikota.

“Kita harus memberikan pencerahan sekaligus merubah mindset bahwa penentuan kemenangan tidak lagi dihitung-hitung berdasarkan ketebalan isi saku calon. Kita harus menggugah hati nurani warga agar dapat lebih mencermati program-program calon melalui visi misinya, dan melupakan apa yang disebut-sebut sebagai serangan fajar,” kata Teddy Robinson Siahaan di rumah pribadinya di Jalan Pangururan No 10 Kota Pematangsiantar, Rabu (25/11).

Berikut ini petikan dialog Teddy Robinson Siahaan (TRS) yang didampingi istri Susy Renta boru Hasibuan.

Bisa Anda jabarkan lebih spesifik terkait pencerahan dan merubah mindset tersebut?

TRS: Terkait dengan diri saya, misalnya, setelah memutuskan untuk mencalonkan diri sebagai calon Walikota Pematangsiantar, tentu saja, saya tidak datang dengan hanya melenggang-kangkung. Tidak pula sebatas mengandalkan kekuatan finansial, dengan pemikiran bahwa dengan membeli suara, saya dapat mencapai tujuan menjadi Siantar 1.

Saya datang dengan memboyong visi-misi yang di dalamnya terdapat sejumlah program yang dapat saya pertanggungjawabkan dan mampu saya wujud-nyatakan.

Saya dengan didampingi tim pemenangan dan para relawan, di setiap pertemuan, senantiasa memberikan pencerahan, agar seluruh warga yang hadir, dapat membuka ruang pemikiran terhadap program-program yang saya sampaikan. Saya tidak mengumbar janji-janji muluk, yang saya sampaikan adalah program-program yang realistis dan sangat menyentuh sendi-sendi kehidupan maupun perekonomian warga Kota Pematangsiantar.

 Anda merasakan bahwa masih banyak warga yang belum memberikan respon positip terhadap program-program yang disampaikan?

TRS: Saya merasa optimis, dalam proses pematangan kerja tim pemenangan maupun relawan, warga Kota Pematangsiantar akan memberikan perhatian serius terhadap program-program yang saya sampaikan.

 Pandangan Anda terhadap cost-politic dan money-politic?

TRS: Cost-politic atau yang disebut-sebut sebagai biaya politik, merupakan sebuah kewajiban yang tidak dapat diabaikan begitu saja. Yang sangat mengganggu itukan, soal money-politic atau yang disebut sebagai politik uang atau serangan fajar.

Serangan fajar, sudah bukan rahasia umum lagi. Bagaimana Anda menanggapi dan menyikapinya?

TRS: Saya harapkan warga Kota Pematangsiantar—yang sudah punya hak memilih—tidak menjadi terperangkap dalam lingkaran money-politic, dan kemudian menggadaikan begitu saja suaranya kepada calon yang melakukan serangan fajar. Money-politic, jika diibaratkan, sangat sama dengan nikmat sesaat, dan tidak memiliki kekuatan apapun untuk memupuk kebersamaan dalam membangun Kota Pematangsiantar.

Bayangkan saja, kalau Anda terlibat dalam money-politic atau menerima tawaran serangan fajar, maka sama dengan Anda tidak lagi memiliki hubungan emosional dengan calon yang ber-money-politic (jika terpilih). Kenapa demikian, karena kedekatan emosional itu sudah dipupus habis dengan mekanisme berbayar.

Apa yang ingin Anda sampaikan kepada warga Pematangsiantar dalam konteks merubah mindset tersebut?

TRS: Saya ingin warga Kota Pematangsiantar, dapat menerima kehadiran saya bukan semata-mata menantikan apa yang disebut sebagai serangan fajar. Tetapi, bagaimana warga Kota Pematangsiantar dapat mencermati dan memahami program-program yang saya sampaikan.

Saya selalu berpikiran positip, bahwa ketika berhadapan dengan siapa pun, saya tidak pernah semata-mata memikirkan isi kantong mereka, tetapi saya selalu membangun pemikiran, apa sumbangsih pemikiran atau gagasan yang dimiliki orang-orang yang saya hadapi.

Materi atau uang hanya memiliki kekuatan sesaat dan tidak melekat, tetapi pemikiran atau gagasan atau ide-ide atau program-program kebaikan menuju peningkatan penghasilan, merupakan sebuah keutuhan yang melekat dan dapat bertumbuh dan bertumbuh.

 Lantas, program apa yang menjadi andalan Anda, yang dapat dicernah dengan ringan oleh warga Kota Pematangsiantar?

 TRS: Saya datang dengan beberapa program, dan yang menjadi fokus pemikiran saya, bagaimana menciptakan lapangan kerja bagi anak-anak kita atau para pengangguran. Terkait hal tersebut, saya sudah mempersiapkan dengan matang, teruji dan dapat terwujudkan, yakni menyediakan lapangan kerja bagi 15.000 putra-putri Kota Pematangsiantar.

Penanggulangan masalah penggangguran dengan penyediaan lapangan kerja 15.000 orang, dianggap kebanyakan orang sebagai gagasan yang tidak mungkin. Bagaimana Anda menanggapinya?

TRS: Sekali lagi, saya senantiasa berpikiran positip, bahwa apa yang kita rencanakan dengan matang dan teruji, akan dapat diwujudkan dengan cara-cara yang terukur. Saya kan sudah banyak menimbah pengalaman di bidang marketing dan pengelolaan bidang usaha. Saya juga sudah membangun jaringan dengan para pengusaha, dan sejumlah pengusaha Korea sudah menyatakan siap berinvestasi di Kota Pematangsiantar, khususnya pengusaha garmen.

 Apakah program Anda ini tidak hanya sekadar catatan di atas kertas?

TRS: Oh, tidak. Saya tidak akan melakukan hal yang membuat nama baik saya tercoreng oleh diri saya sendiri. Keseriusan saya ini, saya buktikan dengan memgikat kerjasama sebuah wadah rekrutmen calon tenaga kerja, The Real Solution Job Division.

Apa yang dikerjakan TRS Job Division.

TRS: Mereka melakukan rekrutmen serta pendidikan dan pelatihan. Mereka sudah bekerja dan kepada calon tenaga kerja yang dibina dan dididik, diberi sertifikat yang akan menjadi modal atau kontrak politik saya dalam penyediaan lapangan kerja.

Seluruh calon tenaga kerja yang sudah direkrut—jumlahnya 15.000 orang—perwakilannya akan bersama saya dalam Kampanye Akbar, dan saat itulah saya bersama mereka akan menandatangani kontrak politik. Saya akan berpegang teguh pada komitmen penyediaan lapangan kerja, dan sertifikat yang mereka miliki merupakan pegangan yang akan dibawa untuk kelanjutan proses penetapan sebagai pekerja.

Anda bisa memberikan bocoran kapan realisasi tersedianya lapangan kerja tersebut?

TRS: Jika Pak Presiden mengatakan dimasa lalu program 100 hari, kalau kami menyebutnya program tiga bulan, enam bulan dan program sembilan bulan. Dalam tahapan inilah, saya sudah akan persiapkan dimana kawasan indsutri garmen dibangun, dan saya sudah canangkan di tahun 2017 sudah berdiri pabrik garmen yang dapat menampung anak-anak kita yang belum punya pekerjaan.

Jadi, masalah penyediaan lapangan kerja ini, bukan isapan jempol. Saya bersama tim, sudah mempersiapkannya dengan sematang-matangnya. Saya tidak main-main untuk mewujudkan amanah Ibunda saya, yang meminta saya agar mengikhlaskan diri menjadi Walikota Pematangsiantar.

Program Anda yang lainnya?

TRS: Hampir seluruh masyarakat Kota Siantar mengeluh terkait dengan tingginya kenaikan tarif  air minum PDAM. Saya berpikir, jika sampai 300 persen kenaikan tarif air minum, ini sangat tidak wajar. Kami melihat ada yang perluh diperbaiki. Menurut data kami, terjadinya loncatan tarif karena adanya biaya penggantian pipa yang sudah bocor dan pipa yang sudah tua.

Menurut pemahaman saya, sesungguhnya untuk mengganti pipanisasi, bisa menggunakan dana alokasi lain dari pemerintah. Sebenarnya pipanisasi itu bisa dicover oleh kementerian PU karena prinsipnya hal itu tidak masalah selama itu untuk kepentingan masyarakat tetapi tentu diajukan. Ada proses. Jadi, saya berkeyakinan tarif air minum masih bisa diturunkan, agar masyarakat dan pelaku usaha tidak mengeluh.

Program lainnya, yang tidak kalah penting, adalah memberikan kredit dengan bungan ringan kepada pelaku usaha kecil menengah, agar mereka dapat membangun usaha mereka dengan lebih baik.

Kemudian, membangun birokrasi yang tidak berbelit-belit dalam pengurusan ijin usaha apapun. Penyelesaian urusan dalam waktu sesingkat-singkatnya, apakah satu hari atau hitungan jam, akan membuat pengusaha merasa aman dan nyaman untuk berinvestasi di Kota Pematangsiantar.

(Teddy Robinson Siahaan menanyakan kepada ajudannya, sudah jam berapa. Mendapat jawaban sudah jam 08.00 Wib, TRS mengatakan “karena saya harus melaksanakan kegiatan untuk bertemu dengan warga, saya kira wawancara dalam konteks lainnya dapat kita lanjutkan lagi. Atau Anda ikut bersama saya, agar dapat melihat langsung bagaimana saya bersama tim membangun hubungan emosional untuk membangun Siantar lima tahun ke depan.”

TRS bersama tim pemenangan dan relawan, bergerak untuk menyapa warga Kota Pematangsiantar. Yakh, sampai ketemu kembali dengan topik berbeda dengan tagline “Teddy Robinson Siahaan datang untuk perubahan bagi Siantar.”)

 

 

Comments

Berikan Komentar Anda