SiantarMeski sudah ada regulasi yang mengatur dan memberi sanksi terhadap perlakuan diskriminatif terhadap perempuan dan anak, tetapi kekerasan terhadap keduanya tetap tinggi. Padahal, kampanye maupun sosialisasi dalam berbagai bentuk terus diupayakan pemerintah bersama lembaga-lembaga pemerhati, termasuk lembaga pendidikan maupun gereja.

Untuk itu, semua pihak harus bersepakat dan gencar memikirkan upaya strategis untuk menghilangkan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Tidak boleh lagi ada kekerasan terhadap perempuan dan anak. Apalagi jumlah anak di Indonesia mencapai 87 orang dari 250 juta penduduk yang merupakan pewaris masa depan bangsa.

“Perempuan HKBP harus berperan menghilangkan kekerasan serta memberdayakan masa depan anak yang lebih cerah,”tegas Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Prof. Yohana Susana Yembise, saat memberikan wejangan di hadapan sekitar 12.000 jemaat Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) pada Perayaan Puncak Tahun Perempuan HKBP di lapangan Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKBP Jl. Sang Naualuh, Siantar Timur, Minggu (29/11/2015)

Secara khusus, Menteri memberi apresiasi terhadap perempuan Batak, yang dikenal gigih dan tanpa pamrih untuk mengedepankan pendidikan anak-anaknya. “Saya banyak tahu tentang kiprah perempuan Batak di berbagai tempat dan lembaga, termasuk di tempat saya di Papua. Saya berharap, melalui momen perayaan ini, perempuan Batak semakin mampu mengembangkan potensinya dalam peran-peran strategis baik di eksekutif, yudkatif maupun legislatif,”ujarnya disambut tepuk tangan meriah jemaat yang mayoritas  perempuan dan anak-anak.

Dalam rangka pemberdayaan perempuan, Ephorus HKBP Pdt Willem TP Simarmata, MA sepakat agar peranan kaum hawa ini dapat terus ditingkatkan, termasuk dalam regenerasi kepemimpinan di HKBP.

“Untuk saat ini, di HKBP sudah ada perempuan yang jadi praeses maupun unit-unit lainnya. Ke depan, peran ini tentu akan semakin berkembang, mengingat saat ini di HKBP sudah banyak pendeta perempuan.,”ujarnya di sela-sela penyampaian khotbah.

Pada bagian lain dari khotbahnya, Ephorus menekankan agar warga jemaat HKBP tidak terjebak terhadap “Illahi Baru” yang belakangan kian mewabah, sebagai dampak perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi.

Ditambah lagi dengan mudahnya orang sekarang berputus asa serta memilih cara pintas untuk menyelesaikan masalahnya. “Karena itu, saya berharap agar kita kembali kepada nilai kebenaran yang dari Tuhan, bukan dari kehendak manusia. Perubahan hanya bisa kita lakukan jika kita memulai dari diri kita sendiri,”ujarnya.

Ibadah Raya ini tampak dihadiri Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia, Pdt.Dr. Henriette Lebang, perwakilan badan gereja luar negeri (Amerika, Korea Selatan, Filipina), Plt Gubernur Sumatera Utara (diwakili Robertson Simatupang, Staf Ahli Bidang Pertanahan dan Aset), Plh Walikota Siantar, Drs Donver Panggabean, M.Si, para praeses HKBP dari 28 distrik se- Indonesia, serta perwakilan jemaat  yang datang dari seluruh Indonesia.

Ketua Panitia, Pdt Basaria Hutabarat,M.Min mengatakan, ada banyak rangkaian kegiatan yang dilakukan selama setahun penuh yang puncak acaranya berlangsung saat ini. Di antaranya perlombaan final Paduan Suara seluruh distrik sehari sebelumnya di Aula FKIP Nommensen yang dimenangkan Distrik Asahan Labuhan Batu.

Penampilan komitmen ber-HKBP dalam bentuk gerak dan liturgis oleh 4000 orang anak secara serentak dibawah asuhan Kepala Biro Zending, Pdt.COR Silaban, juga sangat memukau para jemaat, termasuk Menteri Yohana Yembise yang memberi apresiasi atas penampilan mereka. Sebelum acara berakhir, Menteri dan rombongan lebih dulu meninggalkan lokasi, usai menerima cindera mata berupa pakaian adat Batak dari Ephorus HKBP. 

Editor : Hendri Siadari

Comments are closed.