Isak Tangis Warnai Acara Penguburan Hiskia Diduga Dianiaya Polisi

Acara adat pemakaman Hiskia Perangin-angin di Jambur Desa Rumah Kabanjahe. FOTO: TANAH KARO| DEO GINTING

TANAH KARO| DEO GINTING
Isak tangis seluruh keluarga pecah pada acara adat penguburan Hiskia Perangi-angin (25), di Jambur Desa Rumah Kabanjahe, Selasa (19/04/2016). Korban tewas diduga akibat dianiyaya oleh oknum personel Sat Sabhara Polres Tanah Karo.

Di sela-sela acara yang penuh air mata adik kandung korban, Indriyani Beru Perangin-angin (21), mengaku merasa sangat terpukul dan  merasa kehilangan atas kepergian abangnya. Apalagi menurutnya, kematian saudara kandungnya terserbut masih penuh dengan misteri.

“Kami merasa sangat kehilangan seorang abang yang cukup akrab dengan seluruh keluarga. Apalagi kematianya tersebut tidak wajar, maka kami sangat mengharapkan para penegak hukum dapat mengungkap kasusnya menjadi terang benderang, sehingga kami tidak bertanya-tanya lagi dalam hati,” harap Indriyani saat berbincang dengan crew inforajawali.com di Jambur Desa Rumah Kabanjahe.

Indriyani menambahkan, korban dibawa ke RS Bayangkara Medan untuk diotopsi. Jenaza tiba di Rumah Sakit sekira pukul 19.00 WIB. Kemudian dilakukan pembedahan mayat sekira pukul 20.00 WIB, dan selesai sekira pukul 21.00 WIB. Sesudah selesai baru diberangkatkan kembali kerumah duka Desa Rumah Kabanjahe tiba sekira pukul 02.00 WIB dini hari.

“Berdasarkan informasi yang kami peroleh dari petugas Rumah Sakit Bayangkara Medan mengatakan bahwa hasil pemeriksaan sementara abang saya ini katanya sudah ada mengidap penyakit sejak dua minggu terakhir ini. Namun hasil selengkapnya menurut mereka baru akan diperoleh dua minggu kemudian,” terangnya.

Korban meninggal dunia di Rumah Sakit Adam Malik Medan, Senin (18/04/2016) sekira pukul 06.00 WIB.

Sebelum meninggal dunia, kepada kerluarga, korban mengaku dikroyok petugas yang sedang melakukan patroli di halaman Terminal Terpadu, Jalan Veteran, Kabanjahe, Selasa (05/04/2016) sekira pukul 23.00 WIB.

Ketika itu korban mengaku sedang iseng-iseng melepas lelah seusai kerja seharian bermain tuo dengan beberapa orang rekan kerjanya. Tak lama kemudian petugas patroli datang ke lokasi tempat kejadian perkara. Melihat petugas datang, seluruh pemain berlarian tak tentu arah untuk menyelamatkan diri. Apes, korban tertangkap polisi.

Indriyani mengatakan, korban bukannya malah dibawa ke Polres Tanah Karo, tetapi terus saja diintrogasi sambil melayangkan pukulan bertubi-tubi ketubuh korban. Tak lama kemudian korban dilepaskan begitu saja tanpa ada proses.

“Kata abang saya itu (korban), waktu di Rumah Sakit Efarina Etaham Berastagi-Karo bahwa badannya habis diupukuli polisi dari Sabhara Polres Karo sebanyak empat orang yang menangkapnya saat main judi tuo diterminal Kabanjahe. Abang saya juga mengenali petugas yang melakukan penganiayaan namun dia tidak tau namanya,” beber Indriyani.

Indriyani menambahkan, begitu melihat ada benjolan yang makin membengkak pada bagian leher korban, keluarga membawa korban berobat ke Rumah Sakit (RS) Efarina Etaham pada Jumat (08/04/2016) sore. Kemudian Pihak RS Efariana Etaham melakukan operasi pada leher korban Senin (11/04/2016). Karena melihat ada kejanggalan sesudah dilakukan operasi, pihak RS Efarina Etaham merujuk korban ke RS Adam Malik Medan, Selasa (12/04/2016). Malang, nyawa korban tidak terselamatkan walaupun sudah dilakukan operasi di RS Adam Malik Medan.

Comments

Berikan Komentar Anda