TANAH KARO | Johni Sembiring      
Rencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, pusing. Pasalnya, warga  Desa Lingga, Kecamatan Simpang Empat menolak rencana relokasi sebanyak 1.683 Kepala Keluarga (KK) korban erupsi gunung  Sinabung yang berasal dari Desa Kutatonggal, Gamber, Gurukinayan dan Desa Berastepu ke desa mereka.   

Penolakan warga tersebut terungkap pada saat jajaran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Karo beserta unsur muspida lainnya melakukan sosialisasi di jambur Desa Lingga, Selasa (7/6/2016)
.
“Intinya, kami menolak adanya lokasi relokasi warga pengungsi di Desa ini. Sudah cukup 150 KK pengungsi korban Sinabung yang kami terima, jadi jangan ditambah lagi. Kami tak ingin terjadi konflik di belakang hari,”ujar Kepala Desa Lingga, Servis Ginting, diamini warganya di pertemuan antar warga dengan Pemerintah Daerah.

Keberatan warga salah satunya disebabkan Pemkab Karo belum pernah mensosialisasikan tentang akan adanya lokasi relokasi di desa mereka. Warga menduga, penempatan relokasi mandiri di desanya sarat dengan kepentingan oknum-oknum tertentu yang mengintervensi relokasi mandiri.

Alasan lain disampaikan warga, Desa Lingga merupakan desa budaya dan warisan leluhur untuk dijaga dan itu diakui dunia. Selain itu, Desa Lingga juga merupakan desa sejarah kerajaan.

“Bukannya kami menolak dan benci pengungsi. Namun harus dipertimbangkan dan dikoordinasikan dengan warga mengenai dampaknya dikemudian hari. Masya mereka akan dimasukkan tapi tidak permisi, ada apa ini?,”ketusnya diamini Feri Sinulingga (45) di barengi tepuk tangan ribuan warga Lingga yang lebih dahulu berkumpul sebelum jajaran Muspida dating melaksanakan sosialisai.

Sorakan warga pecah saat Ketua ex ofecio BPBD Karo, dr Saberina Tarigan MARS dan Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD, Matius Sembiring, memberikan pencerahan dan membacakan juknis relokasi mandiri. Warga yang merasa tidak puas dengan penjelasan langsung melakukan interupsi, sehingga membuat seluruh warga yang hadir tepuk tangan .

Sementara, Kapolres Karo AKBP Pangasian Sitio, Sik dan Dandim 0205/TK Letkol Inf Agustatius Sitepu, S.Sos yang hadir dalam pertemuan tersebut dalam kesempatannya berbicara mengharapkan agar warga Desa Lingga mau menerima para pengungsi.

“Karena bagaimanapun mereka adalah bagian dari kita. Jadi tolong dari hati kita masing-masing sebagai manusia pasti mempunyai rasa kemanusiaan,”harap Kapolres diamini Dandim. Namun, warga tetap bersikeras menolak adanya lokasi relokasi mandiri di desanya. Sehingga pertemuan diakhiri karena belum ada titik temu antara Pemda dan masyarakat Desa Lingga.

Diperkirakan 7.000 jiwa pengungsi korban Sinabung berasal dari empat desa, yakni Desa Kutatonggal, Gurki, Gamber dan Berastepu bakal terkatung-katung karena belum tersedianya lahan relokasi.

Pantauan wartawan, pertemuan antara pemerintah daerah terdiri dari Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH dan wakilnya Cory Sebayang dan SKPD terkait serta Muspida Dandim 0205/TK, Kapolres Karo dengan warga Desa Lingga berakhir dengan tangan kosong.

Untuk mengntisipasi adanya konflik dalam acara sosialisai, jajaran Polres Karo menurunkan 50 personel untuk berjaga-jaga (pengamanan).

Informasi yang dihimpun di sekitar Jambur Desa Lingga tempat pertemuan warga empat desa korban (terdampak) erupsi Sinabung sudah diarahkan oknum-oknum yang berkepentingan agar memilih lokasi relokasinya di Desa Lingga.Disebut-sebut, lahan yang telah disediakan itu dibeli oknum pengembang yang notabene PNS Pemkab Karo dan berkonspirasi dengan Sekdakab Karo Saberina Tarigan serta salah seorang anggota DPRD Karo Thomas Jeverson Ginting. Namun untuk konfirmasi lebih jelas oknum-oknum yang disebut-sebut punya kepentingan belum dapat terkonfirmasi.

“Dengar-dengar mereka bertiga sudah menanam saham disitu untuk membeli tanah warga;agar lokasi relokasi pengungsi dibuat disitu,”ujar salah seorang warga yang tak ingin namanya disebut tetapi mengaku simantek kuta (pendiri desa).

Comments are closed.