Anggaran Belum Cair, Pengungsi Sinabung Terancam Kelaparan

Dapur umum posko BPPT Jambur Tongkoh tak ada aktivitas masak memasak. Tampak minyak makan, sayur mayur dan lauk pauk untuk persediaan makan sudah habis. FOTO: DEO GINTING

TANAH KARO | DEO GINTING
Akibat belum cairnya anggaran logistik, para pengungsi korban erupsi Gunung Sinabung asal Desa Kutarayat, Kecamatan Namanteran, Kabupaten Karo yang sudah 8 bulan tinggal di posko BPPT Jambur Tongkoh Kecamatan Berastagi, terancam kelaparan dan kekurangan gizi karena bantuan logistik berupa lauk pauk sudah tak ada lagi.

Tak hanya itu saja, persediaan (stok) beras bulog yang ada semakin tipis dan hanya untuk lima hari lagi. Lebih mirisnya lagi, stok beras yang ada sudah dijual untuk memenuhi kebutuhan lauk pauk, gas dan minyak makan.

“Terakhir logistik yang di drop BPBD pada hari Selasa minggu lalu. Lauk pauk, gas dan minyak makan biasanya dua hari sekali datang. Tapi sudah lima hari ini tak datang lagi. Sehingga lauk pauk dan gas untuk memasak makanan kami tak ada lagi. Terpaksa beras kami jual untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari,” ujar Koordinator Posko Saleh Sembiring didampingi Bangun Ginting dan Koordinator Logistik, Tegap Sitepu di posko BPPT Jambur Tongkoh, Senin (15/02/2016).

Dikatakannya, logistik yang masih disimpan di gudang posko mereka seperti mie instant, beras dan lain sebagainya sudah dijual untuk membeli kebutuhan makanan sehari-hari mereka yang tinggal di posko. Padahal, hal ini sudah dilaporkan ke BPBD, namun hingga sekarang ini belum juga ditanggapi.

“Sudah dua kali kami melapor ke BPBD tapi mereka hanya mengiya-iyakan saja tanpa ada solusi. Bahkan sampai sekarang setiap dihubungi melalui telepon seluler. Kepala BPBD tak mengangkat handphonenya. Dikirim SMS pun tak dibalas,” ketusnya.

Jika sampai tiga hari ini BPBD belum menggubris masalah ini, tambahnya lagi, pengungsi akan mendatangi kantor Bupati. Sebab tidak mungkin berlama-lama tinggal di posko tak ada makanan.

“Kasihan anak-anak kami kalau tidak makan. Mana mereka tau kalau gak ada lauk pauk, sempat mereka teriak lapar. Kan sedih kayak gitu melihat anak-anak yang gak tau apa-apa,” lirih Sembiring.

Menurutnya, kalau memang pemerintah sudah tak sanggup memenuhi kebutuhan dasar pengungsi Desa Kutarayat. Mendingan kembali saja ke desa, daripada tinggal di posko tak makan lagi. Bayangkan saja, anak-anak di posko ini sangat banyak sekitar 400 orang. Kalau mereka tak makan lagi, apa lagi yang harus kami perbuat selaku orangtua.

“Terpaksa harus pulang, biar berladang saja. Jangankan makan, uang jajan anak-anak saja harus kita penuhi. Dari mana kami dapat kalau tak bekerja?, sudah 8 bulan tinggal diposko belum ada kepastian (status) kami ini, ” ujarnya lagi.

Ditambahkan Bangun Ginting, pengeluaran belanja untuk memenuhi kebutuhan lauk, pauk dan gas serta minyak makan setiap harinya di posko tersebut sekitar 600.000 hingga 1 juta rupiah. Sementara jika beraspun dijual lagi stoknya tinggal 5 hari lagi. Selanjutnya apalagi yang akan dijual, Mie instan dan barang lainnya sudah dijual untuk dijadikan duit. Agar bisa memenuhi/belanja lauk pauk.

“Jangan karena ada masalah di atas, pengungsi yang jadi imbasnya. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga pula. Bayangkan lagi, honor coordinator juga belum dibayarkan selama 6 bulan. Itupun gak apa-apa, asalkan logistik tersedia,” ungkapnya.

Untuk itu dia mengharapkan, agar pemerintah daerah maupun pusat segera memperhatikan hal ini. Karena pengungsi di Jambur BPPT Tongkoh berjumlah 2.176 jiwa atau 577 Kepala Keluarga (KK) yang bakal kelaparan.

“Semalam empat zak beras ukuran 50 kg yang sudah dijual. Harga 1 zak kami jual seharga Rp.250 ribu untuk belanja lauk pauk dan gas serta minyak makan. Sebab gas ukuran 15 kg yang dibutuhkan untuk memasak setiap harinya menghabiskan 10 hingga 12 tabung dua hari sekali,” tambah Tegap Sitepu mengakhiri.

Sementara Plt Kalak BPBD Karo, Matius Sembiring, ketika dihubungi melalui telepon seluler mengakui bahwa sampai saat ini anggaran untuk logistik pengungsi belum cair dari pusat. Namun pihaknya berusaha secepat mungkin untuk segera merealisasikan pencairan dana tersebut. Untuk mengatasi kebutuhan logistik beberapa hari kedepan.

“Kita akan usahakan berkoordinasi dengan pihak-pihak yang mau membantu supaya pengungsi tetap terpenuhi logistiknya,” ujar Matius Sembiring singkat.