Peringatan Hari Pahlawan Di Kabupaten Simalungun Tahun 2016

Peringatan Hari Pahlawan Di Kabupaten Simalungun Tahun 2016

Simalungun | inforajawali.com

Dipusatkan di halaman kantor Bupati, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Simlaungun melaksanakan upacara peringatan hari pahlawan tahun 2016. Bertindak sebagai inspektur upacara (irup) Dandim 0207 Simalungun Letkol Inf Oni Kristiyono Goendong dan sebagai komandan upacara Drs Marolop Silalahi MSi (Kadis Kebersihan dan Pertamanan), sebagai perwira upacara Frans Novendi Saragaih SSTP (Plt. Inspektorat). Pamatang Raya, Kamis 10/11/2016.

Upacara peringatan hari pahlawan tersebut ditandai dengan pengibaran bendera Merah Putih yang laksanakan oleh anggota Satpol PP yang diiringi lagu Indonesia Raya, dilanjutkan dengan hening cipta yang pimpin oleh irup. Pembacaan Pembukaan UUD 1945 dilaksanakan oleh Finser Ambarita (Staf Dinas Sosial dan Tenaga Kerja) dan pembacaan pesan-pesan pahlawan dilaksanakan oleh siswa-siswi SMA Negeri 1 Raya.

Peringatan Hari Pahlawan tahun 2016 mengangkat tema: “Satukan Langkah Untuk Negeri”. Peserta upacara terdiri dari barisan TNI,Polri, PNS, Satpol PP, Pelajar dan Pramuka. Hadir dalam kesempatan tersebut, Kapolres Simalungun, mewakil Dan Rindam I/BB, mewakil Dan Rem 022/PT, mewakili Kajari Simalungun, Sekda, para staf ahli Bupati, Asisten, para pimpinan SKPD dijajaran Pemkab Simalungun dan para peteran pejuang kemerdekaan.

Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa dalam amanat tertulisnya yang dibacakan Dandim 0207 Simalungun Letkol Inf Oni Kristiyono Goendong mengatakan, setelah Indonesia merebut kemerdekaannya, semangat kepahlawan tidak cukup hanya dengan mempertahankan patriotisme defensive, kita butuh patriotisme yang lebih positif dan progesif. Patriotisme sejati bukan hanya sekedar mempertahankan melainkan juga memperbaiki keadaan negeri.

Untuk keluar dari berbagai persoalan bangsa , patriotisme progresif dituntut menghadirkan kemandirian bangsa tanpa terperosok pada sikap anti-asing. Patriotisme progresif harus mengembangkan ketahanan bangsa untuk bisa mandiri dalam ekonomi, berdaulat dalam politik dan bekepribadian dalam kebudayaan.

Presiden pada ulang tahun proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1956, setahun setelah pemilihan umum pertama tahun 1955, Bung Karno menjelaskan tiga fase revolusi bangsa. Dua fase telah dilalui, dan satu fase menghadang sebagai tantangan. Indonesia telah melewai “Taraf physical revolution dan taraf survival. Bung Karno menandaskan sekarang kita berada pada taraf investment, yakni tarap menanamkan modal-modal dalam arti yang seluas-luasnya.

Investasi keterampilan dan material tidak bisa menjadi dasar persatuan dan kemakmuran bersama tanpa didasari invenstasi mental. Tanpa kekayaan mental, upaya-upaya pemupukan keterampilan dan material hanya akan melanggengkan perbudakan. Gerakan hidup baru adalah gerakan revolusi mental, untuk menggembleng manusia Indonesia menjadi manusia baru yang berarti putih, berkemauan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala. Itulah jiwa patriotisme progresif yang harus kita kobarkan dalam menghadapi tantangan dan persoalan pembangunan hari ini.

Melalui momen peringatan Hari Pahlawan 10 November 2016, Mensos RI mengajak kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk mengambil makna yang terkandung didalamnya dengan meneladani nilai-nilai luhur yang diwariskan kepada kita seperti taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, Pantang menyerah, jujur dan adil, percaya kepada kemampuan sendiri serta kerja keras untuk membangun Indonesia yang sejahtera sebagaimana cuti-cita Pahlawan bangsa. Mari kita terus berjuang, bekerja, berkarya menjadi pahlawan bagi diri sendiri, pahlawan bagi lingkungan, pahlawan bagi masyarakat maupuan pahlawan bagi negeri ini.

Editor : Hendri Siadari