Erupsi Sinabung Membuat Petani Menjerit

Petani : “Kami Tidak Tahu Lagi Mau Bilang Apa, Beban Hidup Cukup Berat”

Tanah Karo | inforajawali.com|

Semburan abu vulkanik dari letusan gunung Sinabung yang cukup dahsyat19/Pebruari sekitar Pukul 7.30 hingga pukul 8.47 WIB, mengakibatkan petani Karo di seputaran lingkar Sinabung menjerit.

Pasalnya, areal pertanian warga luluh lantak akibat tebalnya semburan erupsi abu vulkanik Gunung Sinabung.Dampak letusan abu vulkanik yang cukup tebal, merusak berbagai jenis tanaman pertanian di sejumlah kecamatan. Diperkirakan akibat letusan erupsi Sinabung, membuat perekonomian warga kolaps. Petani mengalami kerugian besar karena tidak dapat memproduksi secara maksimal. Hasil panen menurun tajam, otomatis mempengaruhi daya beli masyarakat yang juga menurun tajam.

Erupsi Sinabung dipastikan meluluhlantakkan sejumlah lahan pertanian, khususnya di kecamatan Payung dan Tiganderket, Naman Teran dan Simpang Empat serta kecamatan lainnya yang berakibat pasokan sayur dan buah dari Kabupaten Karo ke Kota Medan terganggu.

Sejumlah warga petani yang sempat bincang-bincang dengan wartawan, mengungkapkan, bahwa areal pertaniannya luluh lantak akibat dahsyatnya semburan abu vulkanik Sinabung yang juga disertai batu-batu kerikil.

Dedi Fernando Ginting petani dari desa Perbaji Kecamatan Tiganderket mengaku tanaman tomatnya yang baru berumur satu bulan dengan jumlah 2500 batang sudah tidak mungkin lagi diharapkan.

Bukan cuma sekali ini saja tanamannya gagal total akibat semburan abu vulkanik dari erupsi Sinabung.Sebelumnya juga, tanaman kentang miliknya gagal panen akibat abu erupsi Sinabung. “Hancur semua, kami berharap Pemkab Karo memperhatikan kondisi petani yang sangat terpukul akibat bencana erupsi Sinabung yang tidak kunjung berhenti,” harapnya.

Hal yang sama diungkapkan petani dari desa Batukarang Kecamatan Payung, Frans Maradona Bangun, Usman Ginting, Sikap Tarigan dan Rekro Tarigan. Letusan abu vulkanis Sinabung tadi pagi cukup dahsyat.

“Puluhan hektar tanaman warga desa Batukarang seperti cabai, kol, padi sawah, tembakau, kopi dan tomat luluh lantak akibat tebalnya abu vulkanik Sinabung. Apalagi yang bisa kami harapkan kalau tanaman-tanaman kami sudah rusak semua. Belum lagi kerusakan seng rumah penduduk yang banyak bocor,” keluh mereka sambil mengusap air mata yang mulai menetes.

Petani makin stres, areal pertanian rusak, seng rumah juga rusak, sementara kami warga desa Batukarang tidak pernah mendapat bantuan dari pemerintah. “Dari awal bencana Sinabung sejak tahun 2010 lalu, kami tidak pernah mendapat bantuan, alasannya karena desa kami tidak berada di kawasan berbahaya (zona merah), desa kami berada di radius 7 km dari Gunung Api Sinabung,” ungkapnya.

Ditambahkan Frans Maradona, kami tidak tahu lagi mau bilang apa, kami sudah pesimis, sementara beban hidup cukup berat, keluhnya.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sarjana Purba ketika dikonfirmasi membenarkan kerusakan pertanian warga akibat tebalnya abu vulkanik Sinabung. “Belum dapat diprediksi sekarang berapa luas pertanian yang rusak dan berapa kerugian yang dialami petani. Petugas kami sedang di lapangan mendata areal pertanian warga.,”singkatnya.

Penulis : Johni Sembiring.