Akhirnya Berdamai, Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu Terima Permintaan Maaf Warga Dolok Marlawan

Akhirnya Berdamai, Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu Terima Permintaan Maaf Warga Dolok Marlawan

Simalungun | inforajawali.com

Menindaklanjuti surat terbuka yang disampaikan Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu kepada Pimpinan Satgas Covid-19 Kabupaten Simalungun. Dimana pihak keluarga Ompu Jamot Pasaribu gagal mengkebumikan jenazah kakak mereka Lisbet br. Sianipar (56 tahun) yang meninggal karena covid-19 di RS Pangururan Kabupaten Samosir. pada 30 Mei 2021 Pukul 13.30 WIB kemarin.

Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu akhirnya berdamai dan menerima permintaan maaf warga Nagori Dolok Marlawan setelah melakukan Mediasi dikantor Kepala Desa Nagori Dolok Marlawan. Rabu, 9 Juni 2021.

Tumpal Pasaribu, SPd didampingi adiknya Sopar Pasaribu, STh dari Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu kepada Media inforajawali.com menyampaikan hasil mediasi.
Akhirnya ada kesepakatan Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu dengan Aparat Desa dan warga Dolok Marlawan. Dimana Kepala Desa Nagori Dolok Marlawan Janner Simarmata dan Gamot Huta lima Maruli Nainggolan bersama beberapa warga yang menandatangani surat penolakan pemakaman jenazah copid-19 di desa Dolok Marlawan.

“Hasil mediasi dengan aparat desa kita sudah Terima dan kami sudah saling memaafkan. Kemudian soal keinginan pihak kami untuk pemindahan jenazah penguburan kembali ketempat pemakaman keluarga juga sudah disetujui mereka. Kemudian Permintaan kami kepada Kepala desa, permohonan minta maaf mereka harus di publikasikan dan mereka setuju.” Ujar Tumpal Pasaribu, SPd didampingi adiknya Sopar Pasaribu, STh

Mediasi ini dihadiri Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu dan beberapa warga Huta lima Nagori Dolok Marlawan dari 30 warga yang membubuhkan tandatangan penolakan penguburan jenazah copid-19 pada tanggal 30 Mei 2021 kemaren. Unsur muspika dan Aparat desa, Camat Kecamatan Siantar, Kapolsek berserta Dan Ramil.

Kronologis penolakan pengebumian jenazah copid-19 atas nama Lisbet br. Sianipar (56 tahun) yang meninggal karena covid-19 di RS Pangururan Kabupaten Samosir. pada 30 Mei 2021 Pukul 13.30 WIB.

Jenazah gagal dikebumikan di Nagori Dolok Marlawan Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun karena masyarakat setempat melarang/keberatan.

Kemudian, Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu berembuk supaya dibawa dan dikebumikan di Nagori Dolok Marlawan Kecamatan Siantar Kabupaten Simalungun ( di pekuburan keluarga ) pada hari itu juga yaitu Minggu 30 Mei 2021. Sebelum jenazah dibawa ke Dolok Marlawan tepatnya pukul 16.00 Wib

Terlebih dahulu adik kami yang bernama Sopar Pasaribu penduduk Dolok Marlawan melaporkan kepada Pangulu Nagori Dolok Marlawan dengan maksud apakah jenazah kakak kami boleh dikebumikan di pekuburan keluarga kami yang ada di Dolok Marlawan dan kami sendiri melapor kepada salah seorang anggota Satgas Covid-19 Kabupaten Simalungun yang kebetulan dekat ke rumah kami di Nagori Lestari Indah ( Perumnas Batu Anam ) melaporkan peristiwa kematian kakak kami sekaligus kami minta tolong Alat Pelindung Diri ( APD ) dan untuk menyemprot desinfektan di pekuburan. Seketika itu pegawai tersebut menelepon Pimpinan Satgas Covid-19 Kabupaten Simalungun tentang permintaan pihak keluarga Ompu Jamot Pasaribu dengan jawaban akan diusahakan.

Ketika adik kami Sopar Pasaribu melaporkan ke Pangulu Dolok Marlawan tentang permohonan pengebumian almarhum tepatnya pukul 16.00 WIB tidak ada penolakan. Karena kami merasa tidak ada persoalan tentang pengebumian almarhum, maka kami bergegas untuk mencari petugas penggali kuburan dan petugas lainnya termasuk pendeta dan memberitahukan kepada keluarga di Pangururan untuk segera dibawa jenazah tersebut ke Dolok Marlawan.

Sekira pukul 17.00 wib selanjutnya kami kembali menghubungi Satgas Covid-19 Kabupaten Simalungun tentang permintaan keluarga Pasaribu dan Anggota Satgas Covid-19 Kabupaten Simalungun langsung menelepon Sekretaris Satgas copid-19 dengan jawaban sesuai laporan Camat Kecamatan Siantar bahwa masyarakat di Dolok Marlawan keberatan dikebumikan di desa tersebut, maka permintaan keluarga korban tidak dikabulkan. Mendengar jawaban itu kami terheran-heran dan terkejut, akhirnya kami minta tolong kepada pegawai Puskesmas Batu Anam tentang APD dan dipenuhi.

Sekitar pukul 20.30 WIB, pangulu dan gamot Nagori Dolok Marlawan mendatangi ke rumah Sopar Pasaribu dan pada saat itu kami keluarga besar sedang menunggu kedatangan jenazah. Kedatangan pangulu tersebut adalah untuk memberitahukan bahwa masyarakat setempat keberatan dan menunjukkan tanda tangan masyarakat dalam sehelai kertas. (jumlah yang menandatangani 30 orang) Mendengar penolakan tersebut pihak keluarga kami pun agak marah karena jenazah segera tiba di Dolok Marlawan dari Pangururan.

Sesuai saran pangulu berkumpullah masyarakat sekitar di kantor pangulu bersama pihak keluarga kami untuk membicarakan hal penolakan tersebut.

Sekitar pukul 21.00 WIB kami pihak keluarga dengan masyarakat sekitar berkumpul di kantor pangulu Dolok Marlawan membicarakan boleh tidaknya kakak kami dikebumikan di pekuburan keluarga yang ada di Dolok Marlawan. Kesimpulan pertemuan itu adalah : TIDAK BOLEH. Padahal jenazah sudah tiba di Dolok Marlawan ketika itu. Kronologis ini sesuai dengan surat terbuka yang disampaikan pihak keluarga Tumpal Pasaribu, SPd didampingi adiknya Sopar Pasaribu, STh dari Pihak Keluarga Pomparan Ompu Jamot Pasaribu.

Penulis : Hendri Siadari